Belum ada judul ???? (bagian 1)

SATU

Semua mata tertuju pada gadis yang memakai rok berbeda dengannya. Semua orang bebisik kalau dia anak baru pindahan dari Bandung. Tapi  Hera tidak seperti lainnya. Dia duduk sendiri dengan gaya kepala menunduk ke meja. Pasti dia tidak mau berteman denganku,pikir Hera

Tapi sahabatnya,Lidya (sering dipanggil Lili,)serius menyambut kedatangan anak baru itu. Dengan sigapnya,Lili langsung mengacungkan pertanyaan pada baru itu. Dari kejauhan,Hera hanya bisa tersenyum. Hera memang anak yang pemalu tapi cantik dan baik. Hmm….berbeda dengan sahabatnya Lili,supeeer Eksis. Dan juga so’ cantik. Tapi juga tetep baik. Terkadang di cerita lainnya, anak pendiam adalah anak pintar (berotak encer),tapi kalau Hera tidak seperti itu. Meskipun pendiam tapi nggak pintar. Kalau membahas tentang pelajaran Lili lah ahlinya.

“hei namamu siapa?” Tanya seorang anak perempuan. Si anak baru itu langsung tersenyum. Dengan anggunnya menjawab “ Mika”

“ Mik,kok pindah?” Tanya Lili yang so’ akrab. Kali ini Mika tidak tersenyum. Tanpa merespon pertanyaan Lili,Mika berdiri dan berjalan layaknya seperti model. Dengan ekspresi sedih,Mika berbicara dengan anada yang kecil

“ Aku pindah…karena semua orang di sekolahku mengbicarakan aku yang tidak-tidak. Semua maksudku yang baik,mereka anggap sebagai hal yang negative”

Mana mungkin orang  berpikir  negative kalau perbuatanmu baik?, Tanya Winsie dalam hati. Winsie adalah anak yang mempunyai tubuh yang porprosional, banyak yang antri jadi pacarnya. Padahal, sikap Winsie sangat tidak disiplin.

Winsie dan teman satu genk-nya yaitu : BG ( entah apa kepanjangannya) yaitu; Winsie,Cholin,Niki, juga tidak bergabung dengan temannya yang lain untuk bertanya kepada si-Mika. BG lebih suka ngerumpi daripada mengerjakan hal yang dianggapnya kampungan.

“ jadi,kalian sekarang tahu apa penyebabnya aku disini?” Tanya Mika dengan mata yang membesar,seperti sedang mengancam Lili dan lainnnya.

“ hanya itu?” Tanya Cholin sambil tertawa dengan teman satu genknya. “ sungguh keanak-anakan” lanjutnya

Mika terdiam, lalu menatap mata Cholin. Tapi BG cuek. BG tidak pernah takut kepada orang yang diganggunya.

Disamping meja BG, terlihat ada Hera yang diam-diam saja dengan Komik kesukaannya. Semula kelas menjadi hening, karena Heran,Hera lalu mangankat kepalanya dan melihat keadaan kelas. Ternyata teman-temannya sedang berada diluar kelas. Kini hanya dia dan BG yang ada di dalam kelas.

“ Hera! Sini bergabung” panggil Winsie. BG memang sangat baik kepada Hera,karena menginginkan Hera bergabung dengan mereka.

Dengan senyum polos,Hera menutup komiknya “ terimah kasih,tapi kali ini aku tidak bergabung”

Niki lalu berdiri dan hanya dengan satu langkah,Niki sudah sampai di bangku Hera.“Hera,bukankah tidak enak duduk sendiri begini….mendingan gabung sama kita ngerumpi”

“ tidak terimah kasih, sekarang aku mau ke toilet sebelum bel masuk”

Niki mangangkat alis kirinya,tertanda dia lagi kesal. Baru kali ini ada orang yang menolak permintaannya.

Hera kemudian berdiri, dengan rok yang dibawah lutut dia mulai berjalan. Dilewatinya segerombolan temannya yang masih mengerumuni Mika. Tapi Lili langsung menarik tangan Hera.

“ mau kemana?” Tanya Lili yang sedang memegang balpoin dan selembar kertas buku.

“ ke toilet” sahut Hera  singkat

“aku ikut…’

Tapi,belum jalan bel sekolah sudah berbunyi. Hera menghela nafas. Tidak sampai hitungan detik,tempat yang tadinya dipenuhi orang,kini terbongkar, Masuk ke kelas dan duduk ditempat masing-masing.

Kini Hera yang menarik tangan Lili untuk masuk. Dari kejauhan sudah terlihat Bu Olive,tapi sering disapa Bu Livee.

Dari ambang pintu,Bu Olive melintasi bagian depan kelas. Bu Olive,membawakan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tentu saja,semua murid ketika bertanya atau berbicara dengan Bu Olive harus dengan bahasa Indonesia yang baik.

“ selamat Pagi ..” sapa Bu Olive dengan senyum yang cantik

“ selamat pagi …” jawab serentak seisi kelas dengan nada yang rendah

“oke,minggu lalu kita sudah mepelajari tentang mengembangkan rasa empati. Jadi sekarang seharusnya tentang pendidikan untuk menghadapi tantangan masa depan. Tapi,karena kita terlalu cepat,jadi ibu mau mengulur waktu dengan mengulang pelajaran Drama”

Semua terkejut! Dan kelas X3,tiba-tiba menjadi ribut. Semua berbisik “ perasaan sudah dibahas waktu SMP?”

“ Li, Kamu ngerasa ini sudah di bahas?” Tanya Hera serius

“ ya iyalah sudah….” Sahut Lili pelan “ waktu masih di SMP. Masa’ kamu nggak ingat? Terkadang di bahas waktu  kita ke…” pembicaraan Lili dan Hera terhenti, gara-gara tepukan tangan Bu Olive yang menandakan “ DIAM”

“ ibu tahu kalau ini sudah dipelajari waktu kalian kelas VII atau VIII SMP. Tapi cara menjelaskan atau mempraktekkannya pasti berbeda-beda. Contohnya dari SMP Bina Cahya, pada saat pelajaran Drama,pasti mereka tidak menjelaskan dan mengutamakan praktek…”

“ itu SMP kamu kan?” bisik Hera dengan nada yang sangat kecil

“iyaa” sahut Lili

“ dan sebaliknya SMP Pendidikan Karya. Sekolah ini mengutamakan pembahasannya daripada prakteknya… Jadi,…”

“ kalau yang ini SMPmu” bisik Lili sambil tersenyum dengan mata yang tetap melihat Bu Olive. Hera hanya tersenyum.

“ Maka dari itu…ibu mau mengulang tentang Drama. Sekarang ibu mau membagi kelompok. Satu kelompok berisikan 10 orang. Namanya yang Ibu sebut silahkan ke depan. Kelompok yang pentama. !

* Renhard Fajar Bona V                                * Muh.Dzaky Al-faridza

*Muh. Asyraf                                                      * Muh. Rival

*Wisnu Adi Agung N                                       * Cholin Amanda

*Faisah Irfani M                                                 *Nickyta Rachel

“Hadijah                                                                *Winsie Lyane “

“Kali ini,BG beruntung ya bisa sekelompok.” Kata Lili dengan ekspresi yang berharap dia akan sekelompok dengan Hera.

“ mudah-mudahan kita juga sama” sahut Hera yang duduk di bangku Lili.

“ Oke,kelompok yang kedua silahkan ke bagian samping kanan kelas.

*Kibagus F….”

“Ha! Bagus ada di kelompok dua! Mudah-mudahan aku di kelompok dua……” iming-iming Lili

“          *Iyas Muzani                                               *Muh.Nur Adjie R

*Ichlasul Amalsyah                                    * Andi. Muh Fathy

*Nur Azizah Novitami                * Lidya Kamila

*Nur Faizah Marwan                                * Herani C

*Mikaniya    ” lanjut Bu Olive. Hera dan Lili langsung loncat-loncat kegirangan.    Betapa tidak,baru kali ini mereka sekelompok dalam tugas kelompok.

“oh ya,Mikaniya anak barukan?” Tanya Bu Olive

“ iya bu’” sahut semua murid

“okey,dan sekarang sisanya adalah kelompok tiga,silahkan ke bagian kiri kelas”

****

Dengan langkah yang lambat Hera,memasuki rumahnya .Seperti pencuri saja!. Buaaarrr!!! Bunyi benda kaca yang sengaja di pecahkan. Hera menelan ludah,dengan keringat yang bercucuran di wajahnya Hera membuka pintu belakang rumahnya.

“ Assalamu Alaikum….”

Tak ada respon. Seperti rumahnya tak berpenghuni. Tapi dari kamar Hera,di ruang tamu terlihat Guci yang pecah. Pasti mama dan Papa bertengkar lagi, Kata Hera dalam hati. Dari tangga,turun kakaknya dengan rok diatas lutut dan baju yang ketat. Hufftt…keluarga Hera memang sudah terbongkar.

“kak! Mama papa mana?” Tanya Hera sambil membuka sepatunya

“ Mama ada di kamarnya,papa juga ada di kamarnya” jawabnya dengan santai “ habis bertengkar!” lanjutnya

Hera menghela nafas. Tu kan! Benar. Kata Hera dalam hati dengan wajah yang cemas. Sungguh kedengaran aneh, mama ada di kamarnya,papa ada di kamarnya .orangtua Hera memang sudah pisah kamar sejak adik laki-laki Hera meninggal. Mamanya menyalahkan papalah yang salah! Tapi sebaliknya, papa menyalahkan mama yang tidak mengurus Hendri dengan baik. Saat itulah, keduanya menjadi bermusuhan. Satu per satu perabotan yang ada di rumah pecah. Gara-gara pentengkaran mereka yang hebat.

Sudah 3 tiga bulan seperti ini,pastinya Hera sedih dengan keadaan yang memalukan ini. Hera lalu membuka pintu kamarnya yang sudah tidak terurus. Masuk ke kamar…langsung melihat foto keluarganya yang besar. Dulu,ibunya hampir membakar foto itu,untungnya Hera cepat merebut foto itu dari ibunya.

Saat itu Hera baru berusia 12 tahun dan kakaknya berusia 16 tahun. Daaan..adiknya berusia 8 tahun. Sekarang Hera sudah berumur 16 tahun. Dan bisa kita tahu kalau adiknya meninggal pada umur 12 tahun. Sungguh menyedihkan.

“ Hendri..apa yang kamu bikin disana?” Hera lagi ingin berbincang-bincang dengan adiknya. Tapi tidak mungkin dijawab.

Setelah ganti baju,Hera keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur. Dibukanya tudung nasi yang ada di meja. Tapi ketika dibuka…tak ada nasi,hanya ada kerupuk kemarin hasil gorengan Hera.

Inikan kerupuk yang aku goreng kemarin, kata Hera dalam hati. Dengan perut yang berbunyi-bunyi, Hera berjalan ke ruang tamu. Tentunya dengan membawa sapu untuk membersihkan pecahan-pecahan Guci.

Hera menangis sambil menyapu pecahan-pecahan yang kecil sedangkan yang pecahan besar dipungutnya dan dibuang ke tempat sampah. Hera menginginkan keharmonisan keluarganya yang dulu. Setiap hari ibunya memasak dengan penuh rasa kasih sayangnya. Dan ayah memuji hasil masakan ibu. Oh kapan itu terjadi lagi.

Tinggal sentuhan akhir,kerjaan Hera selesai. Dibawanya pecahan-pecahan besar ke tempat sampah yang ada di luar pagar rumahnya.

“ Hera!” sapa Angel tetangganya sekaligus sahabat rumahnya. Angel hampir seumur dengan Hera,cuman beda sekolah.

“Angel…” sahut Hera dengan memandangi sepeda Angel

“hei….ayahmu memecahkan Guci lagi?” Tanya Angel. Semua tetangga samping rumah Hera sudah tahu kalau keluarganya lagi rebut,pantas saja Angel tahu. Apalagi Hera juga sering cerita kepada Angel.

“ iyaaa… entah sampai kapan”

“kamu kok pucat? Oh..aku tahu kenapa. Yuk ke rumahku. Kita makan bareng” ajak Angel. Hera tersenyum tertanda mau. Dengan cepatnya iya pergi menutup pintu rumah dan pagar.

***

Lampu rumah tidak nyala. Ini bertanda ibu dan ayahnya tidak turun untuk nyalain lampu,padahal sudah malam. Hera menelan ludah. Rasa takut seketika tumbuh,bukan takut dimarahi tapi,takut sama yang namanya hantu!. Hera mengetuk pintu. Tapi tidak ada yang menyahut.

Setelah beberapa meni kakaknya, Hanny mebukakan pintu. Tentu saja Hera langsung masuk.

“kok lampu tidak dinyalakan?” Tanya Hera sambil berbalik menutup pintu

“ nyalakan saja kalau bisa. Andaikan bisa,sudah ku nyalakaan dari tadi!” kata Hanny yang lagi memegang sebungkus besar keripik ubi.

“oh…papa belum bayar tagihan kemarin?” Tanya Hera sambil melihat ke lampu yang tidak menyala.

“iyaaaa…. Eh,kamu sudah makan nggak? Tadi aku habis jalan ma Robi,di belikan deh steak sama dia.. nih makan!” ajak Hanny yang menyodorkan sebungkus makanan yang tercium wangi.

“mmmm iya!” Hera mengambil kotak plastic itu,dan mengambil piring dan sendok garpu . meskipun gelap-gelap tapi untungnya ada lampu cas yang nemani Hera dan hanny yang duduk di meja makan. Dengan lahapnya Hera menyantap steak itu.

“ dek…maafin kakak” tiba-tiba Hanny bicara serius.

“ kenapa kak?” Tanya Hera. Mata Hanny berkaca-kaca,tak tahan melihat mata Hera yang polos.

“kakak mau kawin lari ma Robi. Tadi aku sudah Tanya mama,kalau aku mau nikah ma Robi tapi mama tidak respon. Dan kakak berfikir kalau sebaiknya aku kawin lari saja.”

Mata Hera ikut berkaca-kaca,betapa hancurnya hati Hera. Melihat kakaknya yang menangis,Hera memeluknya. Sungguh menyadihkan.

“kakak tolong! Bawa aku dalam keluarga kakak!!!! Tolong!” Hera menangis. Hera ingin bersama kakaknya daripada bersama orangtuanya yang tidak pernah mengurusnya.

“ Tapi..kamu harus sekolah” Kata Hanny tersedu-sedu

“kakak ku mohon!!! Kakak!! Kakak!!” Hera mamohon lagi. Air matanya sudah membasahi baju kakaknya yang ia peluk.

“kakak mau pindah  ke Jakarta….kamu tidak mungkin ikut. Kamu harus selesaikan sekolah kamu disini!’

“kakak…kumohon bawa aku denganmu! Biarkan saja aku tidak sekolah…kakak…kumohon” suara Hera yang kecil telah habis. Keduanya lalu menangis. Suasana malam itu,sangatlah menyedihkan. Hera harus menerima kalau kini,hanya dia seorang yang tinggal di rumah itu. Memang si..dia tinggal bertiga,tapi ibu dan ayahnya tidak pernah melirik Hera,dan keduanya saling cuek bebek.

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Comments are closed.