Hari yang buruk (rene)

by. Windah Dwi Nuraini

Terlihat seorang anak perempuan berlari kearah pintu gerbang sekolahnya dengan membawa payung merah muda berbintik-bintik merah sapa lagi kalau bukan Alise,teman kelas Rene. Saat itu hujan sangat deras. Memang disana terlihat seorang anak perempuan berkacamata yang berdiri  menunggu jemputan.

Tangan anak perempuan berpayung melambaikan kearah anak berkacamata. Terlihat ingin mengajak pulang bersama. Tapi Rene,anak berkacamata itu tidak merespon lambaian tangan Alise.

Mata Rene hanya tertuju pada pohon mangga yang tumbuh besar di samping gedung sekolahnya. Seolah kagum dengan buahnya yang banyak. Sesekali melihat jam tangannya,terlihat raut wajah yang kesal.

Langkah Alise tambah cepat, berlari dibawah hujan yang sudah sedikit redah. “Rene!” teriak Alise.

Rene berbalik seketika melihat Alise yang sudah ada di depannya. Rene hanya senyum, tidak berniat menyapa.

“ hei! Kamu mau ikut? Aku pulang ke rumah nenek” Tanya Alise sambil menyandarkan payungnya di lantai teras gerbang pintu sekolahnya

Rene diam,tidak memberi respon sama sekali. Sudah berkali-kali seperti ini, Rene sering diajak pulang bareng. Terkadang…. kalau Alise  pulang ke rumah neneknya. Mungkin Rene minder,karena sering pulang gratis,diantar pakai taksi.

“ hei…kamu kenapa?” tanyanya lagi

Rene menggelengkan kepalanya sambil mengatakan “ maaf “

Alise menghela nafas. Lalu mengangkat payungnya ke atas kepalanya.Alise senyum kemudian berbalik dan berjalan lambat. Alise berbalik..

“ aku pulang ya!” kata Alise

“ iya..”

Rene senyum, melihat taksi yang sudah ada di pintu pagar sekolahnya. Kemudian menunduk setelah taksi itu pergi.

Berjalan bolak balik dari sisi kanan pintu ke sisi kiri pintu gerbang sekolahnya,sambil mengerutkan dahinya. Menunggu jemputannya tiba.

Hujan sudah reda,tapi ibu Rene tak kujung datang. Rene sudah lelah berdiri,dan memutuskan untuk duduk di lantai. Lalu menyandarkan punggungnya ke pintu yang sudah lama tertutup.

Mata Rene mulai berkaca-kaca. Bagaimana tidak,anak kelas 6 SD yang sudah pulang dari jam satu belum juga dijemput. Padahal jam tangan Rene sudah menujukkan pukul dua lewat.

Rene sudah menangis,hanya suara tangisannya yang kecil terdengar di tempat itu. Rene menyesal tidak menerima ajakan Alise.

Suara tangisan Rene terdengar sampai pintu pagar sekolahnya, dan didengar oleh seseorang  yang mengendarai mobil sedan merah yang berjalan masuk ke halaman sekolah Rene.

Mobil itu berhenti,kemudian turun seorang wanita  yang berlari kearah Rene. Rene berbalik melihat wanita itu. Kemudian memukulnya,ternyata itu ibunya. Rene memukul ibunya,karena merasa kesal sama ibunya.

“ maafkan mama nak..” kata Ibunya yang mencoba membujuk Rene untuk berdiri dari lantai teras sekolah.

Rene menatap mata ibunya. Lalu berdiri dan masuk ke mobil.

***

Rene terlihat tidak marah lagi. Sambil melihatke kaca spion mobilnya,Rene senyum. Rene sering senyum,setiap bertemu dengan cermin.

“ mama dari mana?” Tanya Rene sambil menatap mata ibunya

“ mama baru pulang mengajar…”

“ kenapa lama?” tanyanya lagi

“ ada tambahan belajar…”

“ooo”

Rene kemudian melihat ke handphone ibunya yang tersimpan di laci mobilnya. Kemudian mengambil handphone itu. Rene membuka file pesan,kemudian inbox. Terlihat banyak sms masuk dari  Pak  Ardi, orang yang selalu datang ke rumahnya.

Dibacanya satu-satu

Ibu Gita ada dimana?,saya sudah ada di tempat = sms yang pertama

Gita adalah nama ibunya

Bu Gita,saya sudah berangkat ke kafe,saya tunggu ya = sms yang kedua

Ooo ibu masih mengajar… = sms yang ketiga

Ibu,bisa tidak kita bertemu di kafe Angel? ada yang saya mau bicarakan= sms yang terakhir

Rene menghela nafas,kali  ini Rene tahu kalau ibunya berbohong. Tapi Rene tidak mau bicara,Rene mengerti kalau ibunya tidak mau memberi apa yang dibicarakannya di kafe.

Handphone itu kemudian di taruhnya kembali,dan melihat keluar jendela. Tapi,tiba-tiba Rene mengerutkan dahinya,ternyata ia lupa malihat waktu masuknya sms itu. Ingin melihatnya lagi tapi…. Rene takut ibunya curiga. Rene kemudian kembali melihat keluar jendela,tidak jadi mengambil handphone itu lagi.

Rene tidak sadar kalau jalan yang ditempuh bukanlah jalan menuju ke rumahnya. Rene baru menyadarinya saat telah sampai di sebuah kafe.

Mata Rene melotot,kemudian mencari nama kafenya. A ha! Dapat! Rene menengok ke atas,dan ternyata nama kafenya adalah kafe Angel!.

Rene sadar kalau ibunya belum ke kafe itu. Rene kemudian tersenyum,karena ibunya tidak bohong.

Ibunya lalu menutup semua jendela mobil. Dan mesin mobil dimatikan. Setelahnya,ia turun dan berjalan ke depan pintu Rene,dan membukakan into untuk Rene,dan Renepun turun.

“kita mau apa disini?” Tanya Rene yang berpura-pura tidak tahu apa-apa

“makan! Dan..bertemu dangan Om Ardi!” seri ibunya

Rene diam,ternyata ibunya tidak pernah bohong. Mareka  kemudian masuk ke kafe. Saat masuk,Rene sudah melihat Om Ardi yang melambaikan tanganya. Ibunya kemudian berjalan ke tempat duduk Pak Ardi.

Rene melangkah dengan lambat. Merasa bosan dengan Pak Ardi,cowok yang selalu memberi bunga ke ibunya. Kali ini,hal itu terjadi lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Bunga mawar yang indah sudah ada di tangan ibunya.

Rene menghela nafas,melihat ke aquarium yang penuh dengan ikan Koi. Rene tidak ingin duduk dengan cowok yang suka dengan ibunya. Lagi pula,tempat duduk yang di pilih Pak Ardi hanya cocok untuk dua orang saja.

Ibunya lalu melihat kearah Rene. Hanya senyum,Rene lalu diam.

Hanya sebentar,Pak Ardi sudah pulang

“ Ren,om pulang dulu ya!” kata Pak Ardi

“ iya om” jawab Rene

Rene kemudian berjalan menuju ke ibunya yang sedang melihat daftar menu kafe Angel.

“kamu mau pesan apa?’ Tanya ibunya

“ Rene sama  mama saja” kata Rene sambil menjatuhkan pantatnya di kursi Empuk

“kalau begitu,Nasi goreng seafood 2,sama jus Alvokatnya juga 2” kata ibunya sambil melihat ke pelayan

“ iya bu,tunggu 10 menit ya bu” kata pelayan

“iya..”kata ibunya

***

Sampai di rumah, Rene langsung ke kamarnya. Melihat ke foto keluarganya yang dulu masih utuh,tapi sekarang sudah tidak.

Ayah dan ibu Rene sudah lama berpisah. Hanya karena masalah spele,keduanya memilih jalan pengadilan. Kejadian itu sangatlah buruk. Dan Rene tidak ingin mengingat hari itu.

Rene menangis,rindunya kepada ayanhnya sudah sangat dalam. Tapi tidak mungkin Rene bertemu dangan ayahnya. Kini ayahnya sudah memulai hidup baru dan tinggal di kota yang lain.

Setelah melepas sepatunya,Rene berbaring ke ranjang.  Tetapi belum sampai 5 menit berbaring,terdengar suara handphone. Dari nadanya,itu bunyi handphone ibunya. Tak lama kemudian terdengar seseorang yang lagi berbicara.

Rene turun dari tempat tidurnya,dan memakai sandal rumahnya. Lalu berjalan ke pintu  kamarnya dan membuka pintunya secara pelan.

Terlihat ibunya sedang asyik menelfon.

“pasti itu pak Ardi” degung Rene

Rene lalu menutup pintu kamarnya dengan nada yang keras. Membuat ibunya langsung berbalik kearah kamar Rene.

“eh,sudah dulu ya,sebentar nelfon lagi” kata ibunya yang sedang berbicara di telfon

Ibunya lalu beranjak dari sofa ruang tamu,dan berjalan  ke pintu kamar Rene. Lalu mengetok pintu kamar Rene.

“ Ren!,kamu kenapa nak?”  tanya ibunya dengan cemas

Rene tak kunjung jawab. Tak lama kemudian terdengar lagu yang di putar Rene. Ibunya menganggap Rene tidak apa-apa setelah mendengar lagu itu.

Ibunya kemudian kembali ke ruang tamu,menunggu talfon yang masuk

Tak lama kemudian,handphonennya berbunyi. Dan ternyata itu Pak Ardi,orang yang menelfonnya tadi. Ia pun asyik menelfon lagi,sampai lupa dengan perasaan anaknya,RENE.

***

Pukul empat,ibunya berhenti menelfon. Ibunya lalu mencari  air untuk menghilangkan dahaga hausnya saat nelfon. Dengan memegang gelas tinggi berisikan air putih, ia berjalan ke kamar anaknya.

Radio yang tadi dinyalakan Rene,masih mengeluarkan suara yang berupa music. Ibunya lalu mengetuk pintu kamar Rene. Tapi ternyata pintunya tidak terkunci. Jadi,ibunya tidak perlu menunggu Rene untuk membuka pintunya.

Ibunya lalu masuk. Terlihat Rene yang berbaring di tempat tidurnya,tapi tidak tidur. Ibunya lalu duduk di springbed Rene. Rene sontak berbalik badan,karena merasakan seseorang disampingnya.

“ada apa ma?” Tanya rene tak senang

“ada yang mau mama bicarakan…” kata ibunya dengan memengang tangan Rene

“apa ma?. Disini saja ma…bicaranya” kata Rene yang mengetahui ibunya akan menariknya ke ruang nonton untuk berbicara

“okey. Tadi…Pak Ardi nelfon ka…”

“ aku tahu kok” kata Rene yang memutus pembicaraan ibunya

“hmm iya,dia bilang…dia akan melamar mama kamu setuju tidak?” Tanya ibunya

“apa?!!!” teriak Rene kaget “ aku. tidak .mau!” sambung Rene

“ kenapa? Padahal Pak Ardi baik…”kata ibunya

“Pak Ardi memang baik pada mama,tapi kepada aku? Dia tidak baik!” bentak Rene

Ibunya diam,hanya menatap mata anaknya yang sudah mengeluarkan air mata. Ibunya menggeleng tunduk . kemudian menangis.

“ maafkan Rene ma, Rene tidak setuju” kata Rene pelan

Ibunya lalu keluar dari kamar Rene. Rene menatap kepergian ibunya. Rene tidak menyesal ,hanya saja sedih. Begitupun ibunya.

***

2.

Matahari yang silau membuat mata Rene terbuka. Tidak ada suara ibunya,yang biasanya teriak membangunkannya.

Tidak ada suara,kecuali suara talevisi yang menyala. Kali ini Rene tahu,kalau ibunya malah asyik menelfon.

Ia lalu mengusap matanya,dan turun dari tempat tidurnya. Mencari handuk di kamar mandi tapi tidak ada. Dan Rne mendapatkan handuk di atas kursi meja belajarnya.

Ia pun masuk kekamar mandi,dan menyalakan keran air. Terdengar suara nyanyian lagu yang dinyanyikan oleh Rene.

Tak lama Renepun keluar. Dengan memakai handuk bewarna pink,ia berjalan ke lemari pakaiannya. Ia mengambil pakaian batik sekolahnya serta rok pendek bewarna merah,ia juga tak lupa mengambil pakaian dalam.

Rene langsung memakainya,dan bersisir rapi. Tak lupa memakai bando yang sering dipakainya,dan di sesuaikan dengan warna baju yang dipakainya.

Setelah semuanya selesai,Rene berjalan ke samping kamar mandi untuk mengambil kaos kaki dan sepatu sekolahnya. Dipakainya satu per satu.

Tak lama kemudian,Rene mendengar suara mobil yang datang. Pasti itu Pak Ardi!. Rene sudah tahu,jam berapa Pak Ardi akan datang saat pagi,saat siang,dan malam.

Gara-gara Pak Ardi datang,terkadang Rene disuruh ibunya untuk pergi naik taksi sendiri. Rene tambah benci sama Pak Ardi kalau begitu.

Rene langsung keluar dari kamarnya,disana sudah terlihat Pak Ardi yang duduk berhadapan dengan ibunya di ruang tamu. Dan ditangan ibunya juga sudah ada bunga Mawar putih.

“hai Rene!” sapa Pak Ardi

Rene hanya senyum terpaksa,dan berjalan melewati ibunya dan Pak Ardi.

“ hey…kamu kenapa?” Tanya ibuya “ itu tidak sopan Rene!” lanjut ibunya dengan nada yang cukup tinggi.

Langkah Rene terhenti karena perkataan ibunya. Rene berbalik ke belakang dan menatap mata Pak Ardi.

“ hai om..” sapa Rene dengan senyum terpaksa

Pak Ardi senyum,tapi ibunya tetap melotot kearah Rene. Baru kali ini Rene menyapa orang lain. Rene tidak punya sifat menyapa,ia lebih cuek.

“ ya sudah. kamu ke sekolah naik taksi” kata ibunya

Mata Rene berkaca-kaca,serasa tak ingin menuruti perkataan ibunya. Ia langsung lari keluar rumah,tak peduli teriakan ibunya.

Rene langsung lari ke jalan poros yang biasanya disana ia menuggu ankot. Tak lama,angkutan kota berhenti di depannya,sambil menangis Rene naik ke angkutan kota itu.

***

Dirumah,ibunya tidak menjawab semua pertanyaaan Pak Ardi,dia diam. Mungkin karena merasa bersalah.

“ Pak,mungkin hari ini saya harus beristirahat dulu,kepala saya pusing”kata ibunya sambil memegang kepalanya

“oh iya,kalau begitu saya pulang dulu”

“iya Pak hati-hati. Nanti saya bujuk Rene”

Pak Ardi menghela nafas “mm kalau memang tidak mau…yaaa jangan dipaksa bu”

Bu Gita hanya tersenyum,kali ini tak ingin berkomentar.

Sementara Pak ardi sudah enyalakan mesin mobil,Bu Gita masih cemas Rene tidak mungkin setuju kalau ibunya menikah dengan lelaki yang selalu membuatnya berangkat ke sekolah sendiri.

Setelah Pak Ardi pulang, Bu Gita pergi ke ruang keluarga untuk nonton. Tapi sampai disana,ia hanya melihat majalah yang berantakan. Dijatuhkannya pantatnya ke sofa yang empuk dan mengumpulkan majalah yang berantakan di atas meja.

Ia menjadi pusing,gara-gara Rene yang bersikap seperti orang yang tidak ingin bertemu lagi dengan Pak Ardi.

“ Rene….kamu tidak mengerti semua ini….kamu masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan ini. Kalau kamu sudah besar,mama janji akan memberitahukan semuanya kepada  kamu” kata Bu Gita dalam hati

Setelah melihat majalah sepintas,ia berjalan kearah kamar Rene. Dibukanya pintu kamar Rene perlahan-lahan,terlihat di dalam kamar sangat bersih dan sejuk.

Ia masuk,dan duduk di ranjang tempat ia duduk sewaktu membujuk Rene. Matahari yang sudah panas,membuat Bu Gita berpindah tempak ke tempak yang tidak terkena sinar matahari.

Bu Gita duduk di kursi meja belajar Rene,disana sudah ada laptop,buku-buku yang berantakan dengan satu buku yang berwarna putih polos.

Ibunya penasaran,ditariknya buku itu dari susunan rak buku. Dibacanya dengan pelan “BUKU DIARYKU”

Dibukanya buku itu,banyak tersimpan foto keluarga mereka. Foto sewaktu Rene masih kecil,dan foto ibunya.

Dibacanya satu-satu tulisan yang telah digoreskan oleh Rene. Dan ibunya mendapat cerita tentang hari kemarin.

Dear Diary..

Hari ini….aku sangat sedih dan marah. mamaku membujukku untuk merestui pernikahannya dengan Pak Ardi,padahal aku tidak mau! Pak Ardi adalah orang terEGOIS di dunia ini! Hanya menyapa mamaku,mentraktir mamaku sehingga aku sering menunggu disekolah sampai jam 3 untuk dijemput! Dasar lelaki jahat! Kata mamaku aku masih kecil,tidak tahu apa-apa,padahal aku ini sudah sangat besar! Buktinya,mama sering mnyuruhku pergi sekolah sendri,pulang sendiri….itu semua karena Pak Ardi! Sampai kapanpun,aku tidak mau kalau Pak Ardi menjadi ayahku! Karena hanya satu ayahku,yaitu Ayah Rizal!

“apakah semua ini tulisan anakku?” Tanya Bu Gita sendiri

“Anakku sungguh membenci Pak Ardi” kata Bu gita dalam hati

***

“Rene!” teriak Alise

Rene memang sudah sampai di sekolah tapi pikirannya masih memikirkan tentang persoalan tadi

“hai Rene” sambung Alise

Rene hanya senyum,seperti biasa….Rene tidak berniat untuk menyapa balik. Padahal,Alise sangat ingin disapa oleh Rene.

“Rene… kamu membawa Rapormu? Bu Herni sudah memintanya…” Kata Alise yang mengikuti Rene

“tidak. Aku tidak tahu kalau Bu Dollar itu sudah meminta Rapor kita”jawab Rene

Akhirnya Rene ingin berbicara

“apa? Bu Dollar..?” tanyanya lagi

“iya! Di beri air minum saja…sudah senang  minta  ampun! Apalagi kalau uang,mungkin nilai kita sudah seratus di Rapor”

“mmm…tapi kamu tidak boleh bila..”

“bilangin Bu Herni? Itu urusan aku,bukan urusan kamu!” kata rene yang memutus pembicaraan Alise.

Rene langsung pergi. Rene memang begitu,kalau sudah emosi dia akan pergi. Tidak Dirumah,tidak di sekolah,semuanya dianggap sama.

Terkadang Alise kesal dengan tingkah Rene,tapi entah mengapa Alise tidak pernah mau tidak berteman dengan Rene. Ia menganggap Rene sangat baik. Maskipun sering dicuekin,tapi Alise yakin kalau Rene adalah orang yang sangat baik.

Tak lama kemudian Rene dikejutkan oleh seorang anak cowok.

“ hai Alise!” sapa Desta,seorang anak cowok yang sangat tampan.Semua teman kelasnya selalu menjodoh-jodohkan Desta dengan Alise.

“ hai” kata Alise dengan pelan

“ kamu kenapa? Kok mukamu murung begitu?” Tanya Desta “ karna Rene lagi?” sambung Desta

“ tidak juga..” jawab Alise

Sebenarnya Desta menyukai Alise,tapi kelihatannya Alise tidak menyukai Desta. Ia hanya menganggap Desta temannya,tidak lebih. Tapi Desta selalu berusaha untuk meyakinkan Alise,kalau dia benar-benar suka sama Alise.

Alise selalu berusaha menjauh dari Desta.

“Alise kamu mau kemana?” teriak Desta sambil melihat kearah Alise yang sudah jauh berjalan.

Tapi alise tak kunjung menjawab pertayaan Desta. Desta pun langsung berlari mengejar Alise. Tapi tiba-tiba,Alise berhenti.

“ kok berhenti?” Tanya Desta penasaran

“ lihat Rene” jawab Alise sambil menunjuk Rene yang duduk sambil menangis.

Mendengar pembicaraan itu,Rene mengangkat kepalanya dan melihat kearah Desta dan Alise. Tanpa berkata apa-apa,Rene langsung pergi. Tangisannya tambah keras. Bermaksud untuk menghibur,tapi malah tambah menangis.

“Rene itu kenapa?” Tanya Desta

“ dia punya masalah,mendingan kamu tidak usah mencampurinya” jawab Alise

Desta merunduk,dan perlahan-lahan berjalan pergi. Sempat berbalik

“Aku pergi dulu ya!” kata Desta

“iya!” kata Alise

***

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Comments are closed.