Ina (bagian 1)

Wajan yang dipenuhi dengan gorengan kue,kini sudah matang. Ika sudah menyiapkan tapian yang di selimuti dengan Koran. Diangkatnya gorengan yang telah matang dan ditiriskan disebuah mangkok yang berisi minyak bekas.

Setelah itu,ditumpahkannya gorangan itu ke tapian. Kemudian mengambil air untuk memadamkan api yang ada di tungku.

Tapian yang sudah berisikan gorengan bermacam-macam,ditutupnya lagi dengan Koran bekas. Diangkatnya tapian itu menuju keluar rumah. Tak salah lagi, ika ingin menjual gorengan itu.

Tapi saat berada di luar pintu,ika melihat adiknya yang sedang berlari dikejar Desta,anak yang cukup kaya. Rumahnya tak jauh dari rumah Ika,hanya berjalan sekitar 10 menit saja.

“ Ina! Kakak disini! “ teriak Ika yang tahu kalau adiknya berusaha menyembunyikan bola Desta.

Setelah mendengar teriakan itu,Ina langsung melemparkan bola Desta kearah kakaknya. Tapi ternyata Ika tidak bisa menangkap,tapian yang berisikan penuh gorengan tumpah karena terkena bola. Untung tidak jatuh semua.

Tapi tetap saja, rugi bagi Ika. Ina mendekat ke rumahnya,menatap mata kakaknya yang berkaca-kaca.

“ maaf kak…” kata Ina dengan pelan

Desta juga mendekat tak ingin berkata,hanya diam.

“ tak apa dek..kakak juga yang salah” kata Ika dengan melihat kearah Ina yang masih berumur 6 tahun.

Ina kemudian mengambil bola Desta yang masuk ke dalam rumahnya. Terlihat bolanya  kotor,karena banyak pasir basah yang melengket di bola itu.  Memang,rumahnya tidak bertehel hanya langsung tanah.

Dindingnya dan atapnya pun hanya terbuat dari seng. Inilah keadaan keluarga Ina. Apalagi,mereka tinggal ber-6 di dalam rumah itu. Dia,kakaknya Ika,kakaknya Iqbal,kakaknya Ira dan kedua orang tuanya.

Setelah dibersihkan oleh Ina,bolanya langsug diberikan ke Desta.

“ Makasih ya! Kalau begitu aku pulang dulu” kata Desta “ maaf ka’ Ika” lanjutnya

“tidak apa Desta” kata Ika

Desta kemudian berjalan keluar dari perumahan kumu,tempat tinggal Ika dan Ina. Ika lalu berjalan dengan pelan,sambil teriak “ kue! Kue!” suara Ika sudah sangat cocok dengan teriakan itu.

Ina senyum, melihat kakaknya yang sangat baik. Bukan Cuma baik tapi juga cantik. Tapi sayang,Ika hanya bisa lulus SD,karena kritis keuangan.

Saat ini ,dirumah tidak ada orang selain Ina. Semuanya  pergi kerja. Ada yang memulung, ada yang sebagai buruh, dan ada yang pergi menjual kue.

Ina mauk kedalam rumah,kali ini dia tidak bisa ke sekolah,untuk mengintip anak yang lagi belajar. Karena hari libur, Ina tidak melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasanya.

Ina memang sangat pintar,dengan umurnya yang terbilang sangat muda,Ina sudah bisa membaca,menulis,berhitung dan menghafal. Tidak ada yang mengajarinya. Ina belajar sendiri,melalui hasil intipannya di SDI Nusa Bangsa.

Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka,ternyata ibu dan kakaknya Ira,sudah pulang dari memulung. Ira adalah anak yang paling tua. Kemudian Iqbal,lalu Ika dan terakhir Ina.

“kakak sudah pulang? Kok cepat?” Tanya Ina yang sedang membuka lebar pintu rumahya

“ hari ini ada truk sampah.” Kata ibunya

“ooo” Ina mengangguk

Ira hanya diam. Setelah masuk ke rumah,Ira langsung duduk di tikar dalam rumah. Dengan menarik nafas panjang,Ira berkata kepada Ina

“dek..ambilin air minum dulu dek”

“ airnya habis kak. Kak Ika lupa angkat air”

“ooo…kalau begitu kamu angkat air dulu baru..” tiba-tiba Ira berhenti bicara.

Ira langsung berdiri kemudian keluar rumah dengan senyum kepada Ina. Ina bertanya

“kak,Ina nggak jadi angkat air?”

“gak usah..kakak saja”

“eee..ee Ina! Cepat ikuti kakakmu! Nanti dijalan pinsan,,,diakan sudah capek” kata ibunya yang duduk di kursi robek-robek

“iya bu” kata ina

****

Di perjalanan,banyak tetangga yang menyapa

“ei Ira,Ina”

Memang, keluarga ira dikenal dengan keluarga yang kerja keras. Setiap hari Ina ditinggal di rumah sendiri. Walau semuanya sudah bekerja,tapi hasil uangnya belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Akhirnya Ira dan Ina sudah sampai di sumur umum perumahan kumu. Ada banyak orang disana,ada yang lagi mandi,mencuci,dan sebagainya.

Disana sangat ramai,seakan-akan semuanya satu keluarga. Saling menyapa,saling membantu dan saling memberi.

Tapi,ternyata Ira lupa bawa ember.Ira dan Ina senyum karena kebodohannya yang lupa bawa ember. Keduanya tertawa,betapa indah rasanya.

“ bu eda..bisa pinjam embernya bu?” pinta Ira

“boleh..boleh ambil saja di rumah” kata bu eda.

Bu Eda tinggal pas disebelah sumur,jadi Ira dan Ina tinggal melangkah sedikit untuk ambil ember.

Dengan tawa,ceria keduanya mengangkat timba  yang sudah berisikan air. Keduanya bercanda,gembira terasa indah rasanya. Kegembiraannya tidak  ada yang menghalangi.

Meskipun belum pernah merasakan kemewahan yang dirasakan orang lain,tapi keluarganya tetap merasakan kegembiraan.

Setelah embernya penuh,Ira dan Ina langsung mengangkatnya. Masih tertawa juga!. Sampai dirumah mereka masih tertawa.

“eh kamu kenapa? Ketawa..ketawa”kata ibunya

“nggak ada apa-apa kok bu” kata Ira sambil senyum-senyum

Ira dan Ina langsung ke dapur untuk memasak air. Suara tawa masih terdengar. Ibunya tidak suka dengan suara itu.

“ kalian! Diam! Sudah susah masih saja ketawa-ketawa!” bentak ibunya

Keduanya lalu diam,walau masih tertawa kecil.

“kakak berhenti ketawa dong..kalau kakak ketawa Ina juga ikut ketawa..” kata sambil senyum.

“Hahahaa” keduanya kelihatan sangat gembira.

***

Jam dinding rumah menunjukkan pukul 4 siang,tapi Ika belum juga pulang. Ina duduk diluar rumah untuk menunggu kedatangan kakaknya yang ketiga.    (bersambung)

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Comments are closed.