Fivestars

Novel ini memang biasa,tapi novel ini menceritakan tentang orang yang hebat,dan luar biasa. Di saat lima orang yang menganggap dirinya adalah sahabat yang baik,tapi ternyata tidak. Buktinya saat salah satu dari lima orang ini berkhianat,tidak akan ada lagi perdamaian antara mereka,dan yang lemah,akan merasa sakit.

Novel By: Windah Dwi Nuraini M

Prolog

Seusai menonton Film kesayangannya, Ade masih terus memikirkan kejadian tadi pagi.  Saat Allan cowok kakak kelasnya datang ke sekolah bersama windah,cewek paling pintar di kelasnya. Sudah lama Ade mengagumi Allan. Tetapi Ade tidak ingin menyatakan perasaannya,mungkin karena gengsi. Apalagi Ade dan dua sahabatnya sangat terkenal di kelasnya.

Jam dinding sudah menujukkan pukul 12 tepat,tetapi ade tidak juga berpindah dari depan televisi yang ada di ruang keluarga rumahnya. Sambil memeluk boneka beruang besar,ade menangis. Berniat ingin curhat pada Dijah,salah satu sahabatnya, tetapi waktu tidak memungkinkan.

Sudah lima hari ade,Dijah,dan Faisah membuat Windah menangis,bukan karena sengaja,tetapi sekali lagi karena Windah selalu dekat sama Allan,cowok yang disukai Ade.

Sudah hampir jam satu malam,tapi ade tak kunjung tidur. Matanya sudah bengkak, belum pernah Ade seperti ini. Sesekali ade menengok jam dinding,tetapi setelahnya,Ade kembali menangis.

Setelah satu jam labih menangis, akhirnya Ade pergi ke kamarnya. Tetapi ternyata tidak untuk tidur,tapi untuk menulis cerita hari ini di buku hariannya.

Sabtu, 16 november 2008

Dear Diary…

Hari ini,…aku melihat Allan bersama Windah..kelihatan mereka sangat dekaaaat sekali. Aku berfikiran mereka pacaran….tapi,Dijah berfilling tidak. Hatiku kembali sakit diary.. aku ingin menyatakan cinta,tapi…aku..malu. Diary,aku sudah mencoba melupakan Allan,tapi tidak bisa. Setiap hari hatiku harus sakit karena melihat mereka ber-dua…….apa yang harus ku lakukan?..apa aku harus melupakannya? Atau aku harus menyatakan cinta padanya? Pliss…tolong aku!

Ya,terlihat dari kata-katanya,Ade sangat mengaharapkan Allan. Tetapi,semuanya hanya bisa Ade mimpikan. Dulu Ade menyangka kalau Allan suka sama dia,dari tatapan mata Allan ke dia,dari cara berbicara Allan ke dia,Ade sangat yakin. Tetapi setelah menunggu lama,Allan tak kunjung datang ke ade untuk  menyatakan cinta.

Ade berharap,Allan akan sadar kalau ada orang yang sangat cinta kepadanya.

Sinar pagi yang silau membuat mata Ade terbuka. Tidak ada panggilan untuk bangun,malah terdengar sepi di rumahnya.  Tapi ada satu suara yang terdengar,seperti orang yang sedang menyanyi. Tiba-tiba Ade ingat,kalau semalam ia lupa mematikan televisi. Ade lalu turun dari tempat tidurnya,walau masih setengah bangun,sambil menuju ke ruang keluarga ade menyisir rambutnya.

Setelah mematikan televisi, Ade melihat ke jendela. Biasanya,jam segini Ayah Ade sudah ada di taman depan rumahnya sambil meminum kopi dan membaca Koran. Tapi,kini tidak ada. Itu berarti ayahnya belum pulang. Lalu berbalik melihat Foto keluarganya,yang terpajang besar di ruang tamu rumahnya. Tapi sayang, keluarga yang lengkap hanya di foto saja,kini ibunya sudah tiada, karena kecelakaan mobil. Hari itu adalah hari terburuk bagi ade.

“ bibi!” teriak Ade

“ iya ..ada apa?” Tanya bibi yang sedang memegang kemoceng.

“ ayah belum pulang?” Tanya Ade sambil menjatuhkan pantatnya ke kursi.

“ belum..tapi tadi pagi,bapak menelfon. Bapak cari non,tapi non belum bangun jadi,bapak nitip pesan sama bibi untuk sampaikan kepada non,katanya bapak pulang hari selasa nanti.”

“ ya  udah bi..”

Setelah bibi pergi dan kembali membersihkan,Ade terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Tiba-tiba adik Ade, Rifa, datang duduk disampingnya dan menyalakan televisi, sambil mengontak-antik siaran di tv Rifa menguap dan bertanya

“ ayah mana?”

“ belum pulang” jawab Ade sambil berdiri,dan berjalan menuju kamanya

Tidak biasanya ade seperti ini,biasanya setiap minggu Ade pergi naik sepeda keliling kompleks.

Belum lama berada dalam kamarnya,Ade mendengar ketukan pintu disusul bunyi lonceng.Rifa pun berdiri untuk membuka. Ternyata Farit,teman SMP Ade. Farit sering datang ke rumah Ade,apalagi kalau hari minggu. Farit sudah berkali-kali menyatakan cinta,tetapi Ade sering menjawab dengan kalimat “ farit,aku itu anggap kamu teman,nggak lebih”

“ ka’ Ade! Ada Farit” teriak Rifa

“ tunggu!!” kata Ade

Setelah menuggu lima menit, ade pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu rumahnya.

“ada apa?” kata Ade

“ tumben kamu nggak keluar rumah untuk naik sepeda..” kata farit

“ malas..kamu sendiri?”

“ aku naik sepeda ke sini. Aku mau ajak kamu naik sepeda”

“mm…tapi kayaknya hari ini nggak bisa deh,banyak PR!” kata Ade sambil senyum.”o ya,mau minum apa?”

“nggak usah…aku datang kesini Cuma mau ngajak kamu,tapi..yaaa karena kamu nggak mau,aku pamit pulang”

“loh kok buru-buru amat”

Farit hanya senyum. Memang manis kelihatannya. Senyuman Farit sudah biasa dilihat Ade. Jadi,Ade tidak perlu salah tingkah ketika melihat senyum Farit.

“ ok..”

“ aku pulang dulu ya! Sampai ketemu nanti!” kata Farit yang sedang naik ke sepedanya.

“iya..”

Ade lalu menutup pintu rumahnya,dan kemudian kembali masuk ke kamarnya. Kelihatannya Ade lagi tidak berselera untuk melakukan aktivitas.

***

Bunyi nyaring Bel sekolah telah berbunyi,yang menendakan pelajaran IPS berakhir. Kini semua siswa keluar untuk beristirahat. Tapi tidak dengan Dijah, Faisah  dan Ade. Mereka tinggal di kelas guna mengerjakan PR Fisika yang akan di periksa sebentar.

“ Dijah!,kamu nggak mau ngerjain PR? “ Tanya Ade

“ nggak….” Jawab Dijah dengan santai

“ loh kok nggak dikerjain? “ Tanya Faisah

“ Males…” Jawab Dijah lagi dengan santai “ Emangnya kamu berdua sudah selesai?” Tanya Dijah

“ baru mau dikerja! “ jawab Faisah sambil melihat buku Windah.

Tidak lama kemudian,bel masuk  berbunyi. Terlihat Ade dan faisah panik. Bagaimana tidak, PR yang dikerjakannya selama 15 menit itu belum selesai. PR itu memang 10 nomor,tapi setiap no.harus di selesaikan beserta caranya.

“  Aduhh..!! gimana nih! Bel udah berbunyi” Kesal Ade

“Ahh! Kenapa sih  bel masuk cepat banget bunyi! “ Kata Faisah dengan kesal

“ hmm santai aja kali,,,berdoa aja Pak Ashar nggak masuk “ Kata Dijah dengan santai

“huuu! Kalau pak Ashar masuk gimana?” Tanya Ade

“yaaa…kita sama-sama di hukum..” jawab Dijah

“ Eh..aku punya Ide! “ kata Faisah sambil senyum sembari memamerkan lesungpipinya

“ idea pa?” Tanya Dijah dan Ade bersamaan

“ Gimana kalau buku windah kita sembunyiin? Spaya dia juga di hukum bareng kita! “ kata faisah

“ iya! Itu ide cemerlang!..” kata Ade

“ hahaha..jadi buku yang kamu tiru tadi itu…bukunya windah lagi ya?”Tanya Dijah

“iya la! Sapalagi”kata ade

“ tanpa sepengetahuan windah lagi?” Tanyanya lagi

“hahaha iya…” jawab Ade.

“kalau gitu..kita sembunyikan dimana?” Tanya Faisah

“Di………. DI KELAS DZAKI!” jawab Dijah karena melihat Dzaki yang bercerita di depan kelasnya.

“bagus juga tuh! Kalau gitu kita panggil aja Dzaki ! “ kata Faisah

“ Dzaki!! DZAKI! “

“ Apa?” Tanya Dzaki sambil berjalan masuk ke bangku Ade.

“kita mau kamu sembunyikan buku windah di dalam tas kamu!” kata Dijah

“ dan jangan bilang sapa-sapa” kata Faisah

“ nih ambil…cepat kamu ke kelasmu dan masukin buku ini di dalam tasmu! Nanti windah liat bukunya disembunyikan!” kata Ade

“ oke! Trus bayarannya berapa?” Tanya Dzaki

“aduh!….urusan itu sebentar! Yang penting kamu sembunyikan bukunya tanpa sepengetahuan windah! Cepetan! Pak ashar uda ada!” kata Ade.

Setelah itu,Dzaki pun berlari menuju kelasnya dengan melewati windah yang sedang berjalan masuk kelas. Pak ashar pun duduk di kursi dan siap menagih PR. PR diperiksa sesuai dengan Apsen. Setelah semua laki-laki sudah naik memeriksa PRnya,sekarang giliran perempuan.

“ ADE NURMALA!” Teriak Pak Ashar

Ade pun berjalan ke meja guru.sampainya di meja guru…

“Maaf pak,saya nggak kerja PR..” kata Ade

“Apa? KALAU BEGITU….KAMU BERDIRI DI DEPAN PAPAN TULIS!” Teriak pak Ashar dengan nada yang tinggi

“Selanjutnya,FAISAH IRFANI!” Teriak pak Ashar

Setelah namanya dipanggil,faisah langsung berdiri samping Ade.

“ tidak kerja juga?” Tanya Pak ashar

“iya pak” jawab faisah

“ SIAPA LAGI YANG TIDAK KERJA!?” Teriak Pak Ashar dengan marah

“saya pak” kata dijah sambil mengangkat tangannya.Dijah pun berjalan menuju ke papan tulis.

Sementara itu,Windah sibuk mencari buku Prnya. Setelah membolak-balik buku yang ada di tasnya dan melihat bukunya tidak ada,perlahan-lahan Windah nengangkat tangannya.

“ Windah,kamu tidak kerja PR?’ Tanya pak Ashar

“ Aku kerja pak,tapi aku nggak tau bukunya dimana…tapi perasaan aku,bukunya ada kok dalam tasku..” jawab windah dengan gemetar

“ Tapi kalau bapak suruh kamu kerja sekarang kamu bisa?’ Tanya pak Ashar lagi

“iya pak! bisa!” jawab Windah dengan gembira.

Windah pun mengerjakannya dengan mudah.

“pak! Kok windah di beri kesempatan si?” Tanya Ade

“ Iya pak..” kata faisah

“seharusnya kita juga diberi kesempatan!”kata ade

“okey bapak beri kamu kesempatan,Ade kamu jawab No.4,Dijah kamu jawab No 8,dan Faisah kamu Jawab No.9.tuliskan cara dapatnya di papan tulis!”kata Pak Ashar

“Ha!”Teriak ketiganya

“ tidak bisa kan?” kata Pak Ashar

Mereka bertiga hanya diam.Itu berarti mereka bertiga tidak bisa mengerjakannya.

Dua jam kemudian,Bel pulang pun berbunyi.

“okey anak-anak,minggu depan kita lanjutkan diskusi kita.Dan yang berdiri di depan papan tulis,minggu depan kalian harus hafal rumus  Fisika tentang Cahaya!”kata Pak Ashar sambil membereskan kertas-kertasnya.

“apa?”serentak mereka bertiga teriak

Setelah pak Ashar sudah keluar kelas,mereka bertigapun mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.Sesampainya di Gerbang sekolah,mereka bertemu dengan Dzaki.

“Dzaki!”teriak Faisah

“hey! Aku tadi ke kelas kamu,tapi kulihat dari jendela kelasmu……kamu berdiriya?” kata Dzaki

“iya!”kata Dijah

“oya! Ini buku Windah”kata Dzaki sambil memberikannya kepada Ade

“ kamu mau di bayar berapa?” Tanya ade

“mmm berapa aja deh!” jawab Dzaki

Ade pun mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang 20.000.

“nih” Kata Ade sambil memberikan uang itu kapada Dzaki

Ternyata kejaidian itu tidak sengaja dilihat Windah.Windah jadi marah,dan..

“O…ternyata kalian berempat yang sembunyikan buku PRku?! “ teriak windah

“ bu..bukan gitu windah”kata Dzaki

“jadi kenapa? Dzaki,aku tahu kenapa kamu mau seperti ini! Karena kamu mau bersahabat kan sama mereka ber-tiga? Aku akan beri tahu kejadian ini pada ayahmu Dzaki dan juga pada kepala sekolah!”kata Windah yang sudah berkaca-kaca.

“Jangan!” kata Dzaki

“kasih tahu aja! Kita nggak takut sama ancaman kamu!” kata Dijah

“ Eh,emangnya kenapa kalau kita yang sembunyikan buku kamu? Kamu itu bisa apa!..” kata Faisah

“ kamu hanya bisa nangis! Seperti sekarang ini!” kata Ade

“Aduhh sudah-sudah….mendingan kita pulang saja!” kata Dzaki

Setelah itu,mereka berempat(ade,dijah,faisah,dan Dzaki) pulang dengan tidak merasa bersalah kecuali Dzaki.Dzaki takut kalau ayahnya mengetahui kejadian ini.

***

“ Rifa!,..bibi!” teriak Ade sambil mengetuk pintu rumahnya

“ iyaa..iya tunggu “ teriak bibi.

Terdengar dari luar suara langkah kaki yang cepat. Setelah langkah itu terhenti,pintu pun sudah terbuka. Ade pun masuk,kemudian duduk di kursi ruang tamu sambil melepas sepatunya. Dari raut wajahnya,Ade terlihat senang. Mungkin karena sudah melihat windah menangis lagi.

“ non makan!” panggil bibi

“iya tunggu!”

Walau belum sempat ganti baju,Ade melangkah ke dapur rumahnya untuk makan. Disana sudah ada Rifa,yang siap untuk makan. Memang sepi kalau makan,apalagi kalau tidak ada ayah. Hanya berdua di meja makan…rasanya pasti tidak enak! Tapi Ade dan Rifa sudah biasa dengan keadaan ini.

“ kakak kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Rifa

“ nggak…Cuma senang aja!”

“ mmm pasti…kakak lagi jatuh cinta ya??…ayo ngaku!”

“ Ah! Nggak…”

“ mm ngaku aja ka’ “

“ iya..iya…”

“ hahaha “

Memang hanya percakapan singkat, tapi mereka berdua masih bisa tertawa.

***

Setelah makan siang,ade ke kamarnya untuk ganti baju. Lalu keluar dengan pakaian serba hitam-putih. Sepertinya..Ade ingin keluar jalan-jalan. Sambil duduk du ruang keluarga,Ade memungut Koran yang masih rapih di meja. Kali ini Koran itu tidak berantakan,biasanya Koran yang ada di tiap pagi itu sangat berantakan. Mungkin kali ini tidak berantakan karena belum ada yyang membaca Koran itu. Apalgi ayahnya tidak ada dirumah.

Tidak lama kemudian,adiknya keluar dari kamarnya dan turun dari tangga dengan pelannya. Kali ini Roifa berpakaian serba abu-abu. Tapi itu tidak jadi masalah bagi Ade.

“ yuk!” ajak Rifa sambil menarik Ade yang lagi asyik membaca Koran

Sambil menghela nafas,Ade ikut dengan tarikan adiknya.

“ kali ini mau kemana” Tanya Ade dengan bigung

“ terserah….”

“ okey,cepat naik ke mobil,biar kakak yang nyetir”

“okey!”

Mereka lalu pergi. Mereka hanya ingin menyenangkan hatinya yang lagi rindu dengan suasana Mall. Sudah satu bulan terakhir ini mereka tidak pernah melihat suasana Mall, melihat pernak-pernik,dan juga mereka ingin ke Salon untuk memanjakan tubuh dan wajah mereka.

***

Hari ini Ade bangun lebih awal. Terlihat dari jendela kamarnya,langit masih gelap. Tapi,Ade sudah siap kesekolah. Saat memakai sepatu di teras depan rumahnya, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumahnya. Mobil itu seperti mobil ayahnya. Ade langsung loncat,setelah melihat plat mobil itu. Mobil itu ternyata mobil ayahnya,pantesen Ade loncat-loncat.

Setelah berpelukan,Ade langsung melepas sepatu yang sudah ada di kakinya. Dan masuk kerumah.

Mereka bercerita bersama,tetapi sebenarnya Ade tidak terlalu memerhatikan pembicaraan ayahnya,karena sesekali Ade menengok jam dinding yang tertempel di atas Foto keluarganya.

“ kalau begitu,ade berangkat sekolah ya!” kata Ade sambil salam sama ayahnya

“ iya nak hati-hati ya!” kata Ayahnya sambil mengantar Ade keluar rumah

***

Sesampainya di sekolah Ade langsung di sambut dengan Dijah dan Faisah. mereka bercerita sambil jalan ke kelasnya. Di dalam, Ade melihat windah yang lagi membaca buku. Tak lain dan tak bukan,pasti mau ganggu windah lagi. Mereka langsung menghampiri windah.

“Eh,katanya mau ngadu?..” kata Faisah

“ mana?” kata Dijah

“ aku kan udah bilang kamu itu nggak bisa apa-apa selain nangis !”kata Ade

“ aku sudah laporin kejadian ini kepada ketua yayasan sekolah ini!” kata Windah

“ ha! Ketua yayasan?” kaget Ade

“Jangan-jangan Ayahnya Dzaki ketua yayasan di sekolah ini..windah kan sempat bilang kalau dia akan laporkan kejadian ini ke ayahnya Dzaki dan juga kepsek..” kata Dijah dalam hati

“ eh guys daripada kita bicara sama orang ini…mending ke kelas Dzaki!” Usul Dijah

“ eh tunggu! Aku mau simpan tas dulu” kata Ade

Setelah simpan tas,mereka bertiga langsung berlari ke kelas Dzaki,setelah masuk,mereka melihat Dzaki sedang menangis. Entah apa yang membuat Dzaki menangis.

“Dzaki! Kamu kenapa?” kata Ade

“ ayahnmu sudah tahu kejadian ini?” Tanya dijah

“i..i..iya” kata Dzaki dengan tersedu-sedu

“ ternyata dugaanku benar! Pasti ayahnya Dzaki adalah ketua yayasan di sekolah ini! “ kata dijah dalam hati

“ sudah Dzaki…” kata Faisah

“mm disini gelap sekali,aku buka hordennya ya!” kata Ade sambil membuka kain horden dan jendela

“ terimah kasih..” kata Dzaki

“Dzaki sudah…aku ngerasa bersalah…kan gara-gara kita juga kamu gini..”kata Dijah

“ iya!”kata Ade dan Faisah

***

Akhirnya bel sekolah berbunyi, semua kelas sedah tidak terisi lagi dengan siswa-siswi. Belum cukup 5 menit,kelas mereka semua sudah kosong.

Ade dan Faisah sudah dari tadi nunggu di parkiran mobil, tapi Dijah tidak kelihatan. Ade berusaha menelfon handphone Dijah tapi katanya lagi sibuk.

“ kemana si Dijah!” kesal Faisah

“ mm emangnya pas keluar dia kemana?” Tanya Ade

“ nggak tau..dia itu tadi lari…aku kira mau ngejutin kita..”

“yaah..Dijah..”

Sambil melihat handphonenya yang lagi bordering, Ade dengan pelan memberitahukan isi pesan itu kepada Faisah

“ Ade,maaf.. aku sudah pulang. Jadi kalian nggak perlu tunggu aku lagi. Maaf aku nggak kasih tau kalian,soalnya ini juga mendadak.”

Sambil menghela nafas..

“ kenapa tidak bilang dari tadi..” kata Faisah sambil membuka pintu mobil

“ mungkin dia baru selesai nelfon” kata Ade yang berusaha membuat Faisah agar tidak marah.

***

Sambil melihat ke luar kaca,Ade melihat orang yang lagi tabrakan. Ade teringat akan peristiwa kecelakaan ibunya. Yang sudah terbaring tidak sadar di dalam mobil.

Orang yang tidak bertanggung jawab yang telah menabrak mobil ibunya,lari. Hanya orang-orang sekitar yang menolong ibunya. Dan kemudian di bawa ke rumah sakit terdekat. Tapi belum sampai di rumah sakit….Ade,Rifa dan ayahnya harus merelakan kepergian ibunya. Ade baru tahu kejadian itu,setelah ada telepon dari rumah sakit.

“ Ade,kamu kenapa?” Tanya Faisah dengan heran

“ nggak…aku Cuma ingat sama..”

“ sudah-sudah ..itukan masa lalu..”

“ walaupun masa lalu, tapi itu peristiwa yang sangat buruk,dan pasti tidak akan ku lupakan.”

“ jangan nangis dong..”

“nggak..aku Cuma kangen sama ibu..”

“ sudah ya!”

***

Sesampainya di rumah Faisah,ade berhenti di depan pintu pagar Rumah Faisah. Faisah turun lalu melambaikan tanganya. Setelah masuk dalam pagarnya, Ade pun pergi. Dan kemudian memutar arah untuk ke rumanhnya.

Ternyata Ade belum berhenti menangis,sampai di rumahnya pun Ade masih menangis. Sungguh sedih Ade.

Tuk..tuk.. itulah ketukan pelan yang di ketuk Ade

Tak lama kemudian bibinya membukaan pintu,setelah melihat Ade yang menangis,bibi membantunya masuk ke ruang tamu. Lalu membaringkan Ade yang sudah hampir jatuh.

Hanya satu yang Ade inginkan waktu itu,yaitu ayahnya.

‘ bi..bi..ayah ma..na?” Tanya Ade dengan lesu

“ mm ayah non,masih ada di kantor.”

“oo…iya maksih bi’ “

Lalu Ade bangun dari kursinya dan berjalan ke kamarnya,sambil membuka pintu kamarnya,Ade meminta

“ bi’ bikinin aku jeruk hangat ya..”

“ iya non.”\

***

“ Ade! Bangun nak,sudah jam 6!” teriak ayahnya

Tapi Ade tak kunjung bangun. Ia mengigil. Suhu badannya sangat tinggi. Ayahnya ingin masuk ke kamar Ade,tapi pintu kamarnya terkunci

“Ade,buka pintunya nak”

Tak ada balasan. Ayahnya mulai kawatir. Setelah berulang memanggil Ade,ayahnya lalu mendobrak pintu kamar Ade.BRAAKKK…. suara dobrakan yang sangat besar. Sampai-sampai Rifa yang lagi sarapan di meja makan, kaget mendengar suara itu.

Karena penasaran dengan suara itu,Rifa dan bibi ergi ke sumber suara. Ternyata yang di dobrak ayahnya adalah pintu kamar Ade.

Setelah dibuka,terlihat masih ada segelas jus yang tersimpan di atas meja kecil samping tempat tidur Ade. Ketika melihat Ade yang berkeringat,ayahnya menyentuh dahi Ade,dan ternyata Ade panas.

“ bibi !! cepat telepon dokter Adri! Suruh datang sekarang juga!” teriak ayahnya yang sedang panik

“ iya pak..”

Rifa lalu berjalan masuk ke kamar kakaknya saat ayahnya menyuruh bibi menelpon dokter.

“ kakak berkeringat sekali..padahal AC di kamar kakak nyala…” kata Rifa dengan nada yang rendah

“ Rifa,kamu nggak usah disini. Habiskan makanan kamu,lalu telepon pak Gelu untuk antar kamu ke sekolah”

“ iya ayah..”

Rifa pun berjalan keluar dengan pelan,memang Rifa sudah SMP kelas satu,tapi tingkahnya masih ke anak-kanakan.

“bibi sudah telepon!” teriak ayah

“ iya pak..katanya sudah mau menuju ke sini!” jawab bibinya yang sedang menuju ke kamar Ade

“kamu bilang secepatnya kan?”

“ iya pak”

Sementara itu Rifa sedang asyik menekan tombol teleponnya. Tak lama kemudian telepon itu diangkat

“ halo,paka Gelu..”

“ iya”

“pak aku disuruh ayah untuk nelfon pak Gelu,katanya pak Gelu harus datang ke rumah aku untuk antar aku ke sekolah”

“ o..iya,iya”

“ iya pak,datang nya sekarang ya pak!”

“iya..iya non”

Seusai menelfon,Rifa mlihat mobil Xeniasilver yang parker di depan rumahnya,ternyata itu dokter Adri.

“ silahkan masuk pak dokter” kata Rifa dengan pelan

“ iya,terima kasih”

Setelah melihat kedatangan dokter,bibi langsung menunjukkan kamar Ade. Mereka pun berjalan ke kamar Ade. Setelah sampai, di dalam kamar sudah ada Ayahnya yang duduk di samping Ade.

“ini dokter” kata bibi

“ iya terima kasih”

“silahkan masuk dokter” kata pak Dimas ( ayah Ade)

“ iya pak..iya pak”

Kemudian Dokter memeriksa Ade dengan teliti. Diperiksanya satu per satu bagian tubuh Ade. Tapi Dokter tidak menemukan penyakit.

“ mungkin anak bapak terlalu lelah,..dan juga strees..” kata Dokter tiba-tiba

“ jadi…anak saya tidak apa-apa?”

“ iya pak,ia harus beristirahat,paling lama lima hari..saya akan tuliskan obat yang bisa bapak beli di apotek”

“ iya dok..”

“ini pak”kata Dokter sambil memberikan sepucuk kertas

“ iya dok..”

“ kalau begitu saya pulang dulu”

“iya pak…silahkan,silahkan”

Dokter lalu keluar dari kamar Ade sambil bercerita dengan Pak Dimas.

Setelah Dokter pulang,ayah mencari Rifa,tapi ternyata Rifa sudah pergi sepuluh menit yang lalu.

***

“kayaknya,Ade nggak datang nih!” kata Faisah

“ mungkin terlambat” kata Dijah

“hmm memangnya kamu pernah lihat Ade terlamabat?”

“nggak si..”

Karena sudah lelah menunggu Ade di depan pagar sekolahnya,Faisah dan Dijah kembali ke kelas. Sambil berjalan ke kelas,Dijah dan Faisah bercerita.

“ kenapa kemarin kamu pulang deluan?” Tanya Faisah serius

“mm…ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita…”

“ Dijah,aku ini sahabat kamu!..ayo dong cerita”

“ kamu nggak ngerti! Ini masalah keluarga aku..!”

“ maaf..maaf..aku nggak bermaksud untuk..”

“nggak papa”

“o ya,kamu mau nggak ke rumah Ade sebentar?”

“ mmm mungkin aku nggak bisa”

“ kenapa lagi?”

“ masalah kemarin belum selesai”

“ooo….okey,aku akan ajak Dzaki!”

“ itu ide yang bagus”

***

Saat bel pulang,Faisah berjalan sendiri ke kelas Dzaki,melihat Dzaki masih membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja,Faisah masuk ke kelas Dzaki.

Temannya bersorak-sorak melihat Faisah yang sendiri masuk ke kelasnya,memang baru kali ini Faisah sendiri. Dzaki cukup kaget melihat Faisah yang sudah ada di depannya.

“ Dzaki kamu mau nggak temani aku ke rumah Ade?” Tanya Faisah sambil menjatuhkan tubuhnya ke bangku samping Dzaki

“ mau..mau!”

“ okey..kalau begitu,kita pergi sekarang!”

“ sekarang?”

“ iya..kamu kira kapan?”

“ aku kira bukan hari ini…”

Faisah lalu menatap mata Dzaki yang bening,Dzaki terdiam. Baru kali ini Faisah bertingkah seperti ini. Hati Dzaki deg-degan saat Faisah memegang tangannya,bermaksud untuk menariknya keluar kelas.

Sesampai di luar kelas,Dzaki tersenyum-senyum sendiri. Semua yang lewat di samping Dzaki dan Faisah menyangka kalau mereka pacaran!

“ kamu kenapa tersenyum-senyum?” Tanya Faisah

“ nggak”

Genggaman Faisah semakin erat,perasaan Dzaki pun semakin menjadi-jadi.

“ jangan terlalu erat..” kata Dzaki dengan nada rendah

“ mm..aku takut kehilangan kamu,nanti kamu pergi..trus tidak ada lagi deh yang temani aku ke rumah Ade..”

“ooo”

****

Dijah, ibu berikan kamu waktu sepuluh menit untuk ketemu denganku.

Itulah pesan yang dikirim ibunya ke Handphone Dijah. Ternyata Selama ini dijah pulang cepat karena ingin ketemu dengan ibunya. Padahal,kita semua bisa melihat ibu hamper setiap hari. Mungkin ibunya adalah wanita karir.

“ ibu,aku tidak terlambat kan?” Tanya Dijah yang baru sampai di rumahnya

“ tidak nak…tapi tinggal dua menit untuk bercerita….sudah jangan menangis” kata ibunya yang melihat Dijah yang sedang menangis

“ ibu akan datang lagi kan?” Tanya Dijah

“ ibu pasti akan datang lagi,tapi mungkin bulan depan. Saat ayahmu tidak ada di rumah”

“ salam ku untuk ka’ Erik”

“ iya..”

Hanya dua menit,tapi waktu itu sangat berarti untuk untuk Dijah. Setelah mengantar ibunya ke Stasiun,Dijah menangis. Ingin rasanya kembali berkumpul bersama keluarga yang lengkap. Nasib Dijah memang masih beruntung dibanding Ade.

Diam..Diam..sepi di rumah Dijah. Tak ada orang lain selain dia dan pembantunya. Menonton televisi menjadi malas,bermain game juga tidak ada gairah. Dijah memang orang yang susah ditebak. Meskipun musibah menimpahnya,tapi di raut wajahnya berusaha tegar.

Seharian ini dijah tidak melakukan aktivitas. Handphonenya juga tak pernah bordering. Kerjaannya hanya makan,minum, dan ke kamar kecil.

Kesedihan yang mengumpal di hati Dijah sangatlah besar,ia tidak mungkin melupakan kejadian lima hari yang lalu. Hari dimana ia harus melihat ayahnya dan ibunya di pengadilan agama.

Dan kemudian pulang berpisah dengan ka’Erik dan ibu. Hakim mengatakan Kalau anak perempuan mengikuti ayah dan anak laki-laki mengikuti ibu. Keputusan itu membuatnya jarang bertemu dengan ibunya dan ka’Erik. Sungguh rasanya tak enak.

Apalagi tiga hari yang lalu, foto keluarga di rumahnya sudah dilepas dari dinding yang berwarna hijau muda itu…

***

“ nah ini rumah Ade” kata Faisah yang sedang menunjukkan rumah Ade ke Dzaki

“oo ini..besar juga ya?”

“ iyalah..tapi kayaknya ada tamu…”

“kok kamu bisa tau?”

“lihat. Ada mobil Hijau . Adekan tidak punya mobil warna hijau”

“ooo”

“yuk kita masuk”

Faisah pun mengetuk pintu rumah Ade,tak kemudian muucul seseorang yang membuka pintu.

“ Adenya ada bi’?” Tanya Faisah

“ ada..ada masuk” jawab bibi

“makasih” kata Faisah dan Dzaki serentak

Setelah masuk ternyata yang ada adalah Farit. Tapi Dzaki dan Faisah tidak mengenal Farit.

“ hei..Ade!” teriak Faisah gembiri

“hei….”kata Ade

“ o iya perkenalkan ini Farit,teman lamaku” lanjut Ade

“Faisah”

“farit”

“Dzaki”

“Farit”

***

Keesokan harinya,Dijah tidak datang lagi. Kali ini entah apa yang membuatnya tidak datang.   Kemarin memang wajah Dijah belum sepenuhnya gembira. Fivestars berencana,sepulang sekolah akan ke rumah Dijah. Tapi sayangnya,Ade tidak bisa ikut, dia lebih memilih jalan bersama Allan daripada bersama sahabatnya.

“ jadi kamu lebih memilih Allan?” Tanya faisah dengan kesal

“mm bukan gitu,… kalian kan tau kalau aku itu jadian sama Allan baru kemarin,jadiii…” kata Ade dengan menggigit bibirnya

“ jadi apa?” bentak Faisah

“ kamu itu tidak setia kawan ya! Baru sehari jadian sama Allan laganya udah selangit! Andai aku tau sifatmu gini setelah pacaran ma Allan,mendingan aku tidak nolong kamu!” lanjut Faisah

“udaaah…” teriak windah

“ nggak usah ada yang belain dia!”kata faisah sambil menarik tangan windah dan Dzaki menuju tempat parkiran mobilnya.

Ade hanya diam,tampak dari wajahnya Ade sangat menyesal,tapi semua sudah terjadi,faisah sudah terlanjur marah kepadanya. Tak lama kemudian Allan menepuk pundak Ade,

“ yuk…………., kok kamu nangis?” kata Allan sambil menghapus air mata Ade

“mm nggak papa,o ya aku bisa minta permintaan nggak?” kata Ade

“ apa..?” Tanya Allan

“ sepulang dari jalan,aku mau singgah ke rumah Dijah” pinta Ade

“ gitu aja?” kata Allan

“iya”

“ya gitu sih gampang!” kata Allan dengan tersenyum

***

Sesampainya di rumah Dijah, faisah langsung menceritakan kejadian sepulang sekolah itu kepada Dijah. Tapi setelah bercerita,faisah melihat raut wajah Dijah yang belum memungkinkan

“ maaf Dijah,aku datang langsung cerita buruk ma kamu..”kata faisah

“nggak papa kok” kata Dijah

“mmm Dijah,ngomong-ngomong kenapa kamu nggak pergi sekolah ?” Tanya Windah

“ mm maaf windah,mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita tentang..orangtua aku” kata Dijah sambil menangis

“ mm aku juga minta maaf,seharusnya aku nggak nanya itu..” kata Windah

“ udahhh jangan nangis..” kata Dzaki

“ o ya,tapi besok kamu datang sekolahkan?” Tanya Windah

“mm aku juga nggak tau aku datang atau tidak..” kata Dijah dengan pelan

“ha!” teriak faisah tiba-tiba

“ kenapa?” Tanya Dzaki

“ Faisah,jangan teriak” kata Windah

“besok hari apa?” Tanya Faisah

“ Sabtu,memangnya kenapa?” Tanya Dzaki lagi

“ palajaran Fisika setiap hari apa?” Tanya Faisah lagi

“setiap senin dan sabtu,memangnya kenapa si..?” kata Dzaki dengan penasaran

“kalian nggak ingat kalau aku,Dijah dan Ade disuruh hafal rumus cahaya!?” kat a faisah

“oh iya!” kata Dijah dengan kaget

“aku nggak mau pergi sekolah ah!” kata faisah

“ kalau aku…juga nggak datang kayaknya”kata Dijah

”eh eh eh..kalian nggak boleh gitu,kalian itu harus datang sekolah! Sampai kapan kalian mau sembunyi dari pak Ashar? Mendingan kalian aku ajar!” kata windah

“beneran kamu mau ajar kami tentang rumus cahaya?” Tanya Dijah

“ iya..” kata windah

“kalau begitu,kita belajar di sini saja!” usul faisah

“ ok” kata windah

“ Dzaki! Kamu mau kan…tunggu kita selesai belajar?” Tanya Faisah

“ iya deh…aku tunggu kalian sampai selesai!” kata Dzaki sambil menikmati minuman yang dibawa bibi Dijah

Merekapun belajar bersama

Sementara mereka sedang belajar,terdengar ketukan pintu,kemudian diusul dengan bunyi lonceng yang tertempel di dinding samping pintu rumah. Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Dijah

“aku aja yang buka” kata Dzaki

Dzaki pun membuka pintu kamar Dijah . dan …

“ ADE!” kaget mereka semua.tidak hanya itu,ade datang bersama Allan,pacar Ade.

“ngapain kamu ke sini!” bentak faisah

“ udah..” kata Dijah pelan

“ aku hanya ingin menjenguk Dijah,nggak lebih kok” kata Ade

“ udah,faisah,Ade!Allan! ayo masuk” ajak Dijah

Dzaki dan windah hanya diam,tak ingin ikut campur. Saat itu faisah tidak mau melihat Ade,faisah menganggap ade itu cewek yang paling egois yang pernah dia kenal.

“ kalian lagi belajar bersama ya?” Tanya Allan

“ iya ka’ “ jawab Dzaki

“ mm kalau begitu ..kita lanjut ya!” kata windah

“ jadi kalian belajar tentang rumus cahaya?” Tanya Ade

“ iya!” kata windah

“ boleh gabung nggak?” Tanya Ade.

Semua diam,tidak ada yangberani menjawab. Sementara itu Dzaki dan Allan lagi bermain Ps. Ade merunduk, diam-diam ia mengeluarkan air mata. Tetapi semua masih diam. Windah  merasa tidak enak,jadi windah hanya menuliskan rumus cahaya di selembar kertas,lalu memberikannya pada Ade.

“ ini Ade,maaf kalau aku tidak bisa menjelaskannya..” kata windah pelan

“ nggak papa…makasih ya..o ya sebelum aku pulang..aku mau bilang kalau aku nggak pernah punya niat untuk keluar dari fivestars,aku masih mau bersahabat sama kalian,aku bukan mementingkan pacarku,Aku seperti itu,karena aku tidak mau kehilangan Allan….aku nggak mau membuat Allan marah sama aku….aku manusia biasa yang tidak sempurna…aku baru merasakan cinta,ku mohon..mengertilah!” kata Ade dengan tersedu-sedu

“ kita mengerti kok” kata Dijah sambil memberikan sapu tangan kepada Ade

“ aku minta maaf Ade..” kata Faisah pelan

“ makasih ya” kata Ade senang.

Setelah itu,mereka berpelukan.

“ jadi,kamu jadi pulang?” Tanya windah

“mm bagaimana ya..” kata Ade

‘ tinggal aja!” kata Allan yang sedang asyik bermain Ps

Mendengar  perkataan Allan,Ade tersenyum menandakan ingin tinggal. Mereka pun belajar bersama sampai larut malam.

This entry was posted in Cerpen. Bookmark the permalink.

Comments are closed.